HARI-hari ini. Dunia dikejutkan dengan wabah virus Corona dari Wuhan Cina. Bahkan kota Wuhan pun bak kota mati, diisolasi dan disterilkan. Ada dugaan, virus corona berasal dari hewan kelelawar, ular atau tikus. Dengan mudah tersebar melalui udara. Dan katanya belum ada obatnya. Penyebarannya pun dianggap berlangsung cepat. Hingga mengancan kesehatan dan jiwa manusia. Korban bergelimpangan katanya, padahal baru 17 orang yang meninggal dunia. Sementara waktu wabah virus SARS lebih dari 700 orang mati.

Indonesia hari ini ketakutan. Terwabah virus corona. Kecemasan makin bertambah. Ketika virus ini disinyalir telah masuk ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Maka kemarin-kemarin, tersebarlah berita dugaan suspect virus corona di Gedung BRI, di Gedung BPK bahkan di Manado. Semua orang takut terkena virus corona. Makin lengkap, karena video “berjatuhannya” korban virus corona di Cina pun beredar di Indonesia. Orang Indonesia makin takut mati.

Pertanyaannya, benarkah virus corona mematikan?

Bahwa virus ini menular iya. Virus yang belum ada obatnya iya. Tapi apa virus corona mematikan? Sudah terbukti, memang virus ini bisa menular. Maka langkah terbaik adalah mengisolasi penderitanya, bila sudah terdiagnosa. Kata Pak Dahlan Iskan, virus ini tidak menyerang semua orang. Karena mayoritas pasien yang terkena memang kondisi badannya sedang lemah. Rata-rata usianya pun sudah tua.

Jadi, apa dapat disimpulkan virus corona mematikan? Tentu tidak. Karena yang mematikan manusia hanya Allah SWT. Semua yang terjadi pada manusia itu atas kehendak-Nya. Ada baiknya masyarakat dan orang-orang pintar tidak perlu berlebihan. Cukup ikhtiar untuk antisipasi menyebarnya virus corona di Indonesia. Virus corona hanya sinyal dan pelajaran. Bahwa manusia bukan apa-apa. Maka menjaga kondisi badan adalah penting. Agar tetap sehat. Gaya hidup sehat juga penting. Memperkuat kondisi tubuh juga penting. Tidak ada yang mematikan selain Allah SWT.

Jangan lupa. Di negeri ini, racun sianida pun bisa mematikan. Antraks pun mematikan. Merkuri pun mematikan. Bahkan virus kebencian dan kemarahan pun bisa mematikan. Bahkan korupsi pun bisa mematikan. Banjir belum lama ini pun mematikan. Tapi itu semua atas sebab dan ulah manusianya. Jadi, apa benar virus corona mematikan?

Sungguh, sikap lebih penting daripada fakta.

Komisioner KPU kena OTT KPK. Ada 190 pohon sudah ditebang di Monas. Ibukota negara pun sudah pasti pindah ke Kalimantan. Dirut Garuda dicopot. Pak Jokowi jadikan Pak Prabowo sebagai menteri. Raja dan ratu keratin agung sejagat sudah ditangkap. Ada agi Sunda Empire. Bahkan kasus Jiwasraya dianggap skandal korupsi. Persis seperti virus corona yang mewabah. Itu semua fakta. Nyata terjadi, lalu apa yang bisa diperbuat?

Apapun yang terjadi, intinya “sikap lebih penting daripada fakta”.

Hidup manusia itu, hanya 10% tergantung pada fakta. Dan 90% tergantung pada sikap. Fakta bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Tapi semua tergantung cara menyikapinya. Bahwa hari ini, banyak orang yang “meributkan fakta” itu pun fakta masyarakat Indonesia. Semua fakta dipersoalkan. Lebih senang memperdebatkan “kenapa ini terjadi” dan “kenapa bisa terjadi”. Karena mereka tidak mempunyai sikap.

Adalah fakta, makin banyak orang yang “membenarkan” pikirannya sendiri. Tapi di saat yang lain ia gemar “menyalahkan” pikiran orang lain. Lalu berdebat, saling adu argument hingga bermusuhan. Itu fakta. Tinggal bagaimana menyikapinya?

Jadi, siapa bilang virus corona mematikan?

Sungguh, apapun penyakit dan virus yang katanya mematikan. Harusnya, semua itu mengingatkan bahwa betapa lemahnya manusia dan betapa kuasanya Allah SWT. Manusia bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Pangkat, harta dan jabatan tidak berguna sedikitpun saat kematian tiba. Karena hakikatnya, manusia hanya makhluk yang tidak berdaya.

Sekuat apapun sebuah bangsa, sehebat apapun angkatan perang sebuah negara. Terlalu mudah bagi Allah untuk membinasakannya dalam sekejap. Berita mewabahnya virus corona justru harus disikapi agar manusia segera kembali kepada Allah. Menggantungkan segara urusannya kepada Allah, bertawakal pada-Nya.

Ikhtiar untuk jadi lebih baik dan berdoa “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang Engkau timpakan kepadanya (berupa penyakit), dan (segala puji bagi-Nya) yang telah melebihkan aku atas hamba-hambanya”. Karena sesuangguhnya, tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali penuh hikmah dan keadilan di dalamnya.

Maka, virus corona tidaklah mematikan. Tapi yang mematikan hanyalah Allah. Karena semua yang terjadi pada manusia adalah kehendak-Nya.

Sikap jauh lebih penting daripada fakta. Virus corona fakta, tinggal bagaimana menyikapinya? Karena sikap, semuanya bisa lebih baik atau bisa lebih hancur. Karena sikap itu, bisa membaikkan dan bisa pula menghancurkan. Sikap itu adalah perbuatan kecil yang mampu menghasilkan perbedaan yang besar.

Sekali lagi, virus corona tidak mematikan. Tapi Allah yang mematikan. Maka surga bukan hanya “tempat”. Tapi hasil dari serangkaian “sikap” manusia di bumi-Nya…

Oleh : Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka.


Siaran Pers atau Press Release ini boleh dikutip dan ditayangkan di media cetak, media siber, atau media online. Sebarkan Siaran Pers ini kepada jurnalis lainnya, agar segera ditayangkan. Terima kasih, jika berkenan mencantumkan sumber kutipannya (Pusatsiaranpers.com) di dalam berita media Anda.